Kursus Inggris Islami: Cara Cepat Jago Speaking di Ramadan BAPOMI Dharmasraya

Bulan Ramadan sering kali dianggap sebagai waktu untuk beristirahat dan mengurangi aktivitas fisik yang berat. Namun, bagi mahasiswa di daerah perkotaan, momen ini justru menjadi peluang emas untuk meningkatkan kompetensi diri melalui kursus Inggris islami. Program ini dirancang dengan menggabungkan dua kebutuhan sekaligus: memperdalam pemahaman agama dan menguasai bahasa internasional. Inovasi metode pembelajaran ini bertujuan agar para peserta tidak hanya mahir secara linguistik, tetapi juga mampu menjelaskan nilai-nilai Islam kepada dunia luar dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan benar.

Masalah utama yang sering dihadapi oleh pembelajar bahasa adalah rasa bosan dengan topik yang itu-itu saja. Dalam program ini, kurikulum didesain secara unik dengan mengambil tema-tema seputar Ramadan, sejarah Islam, dan tokoh-tokoh muslim dunia sebagai bahan diskusi. Inilah cara cepat yang ditawarkan oleh para tutor mahasiswa untuk memicu minat peserta. Ketika seseorang membicarakan hal yang mereka kuasai dan sukai (seperti agama), mereka cenderung lebih berani untuk mengekspresikan diri. Rasa percaya diri inilah kunci utama agar seseorang bisa segera jago speaking dalam waktu yang relatif singkat, yaitu selama sebulan penuh masa puasa.

Pelatihan ini tidak dilakukan di dalam ruang kelas yang kaku, melainkan sering kali diadakan di selasar masjid atau taman terbuka menjelang waktu berbuka. Suasana santai namun terfokus membuat proses penyerapan kosa kata baru menjadi lebih efektif. Mahasiswa menggunakan berbagai media interaktif, mulai dari menonton video dokumenter islami berbahasa Inggris hingga melakukan simulasi debat mengenai isu-isu kontemporer. Fokus pada kemampuan berbicara (speaking) membuat peserta terbiasa menggunakan bahasa Inggris secara aktif, bukan sekadar memahami tata bahasa secara pasif di atas kertas.

Selama Ramadan, waktu setelah salat Subuh atau menjelang Magrib dimanfaatkan untuk sesi “Daily Conversation”. Peserta diajak untuk menceritakan aktivitas puasa mereka, menu berbuka favorit, hingga harapan mereka di hari raya nanti dalam bahasa Inggris. Praktik yang konsisten setiap hari ini membantu lidah peserta menjadi lebih lentur dan meminimalisir rasa gugap saat berbicara. Mahasiswa yang bertindak sebagai tutor memberikan koreksi secara instan namun dengan cara yang menyenangkan, sehingga peserta tidak merasa diadili saat melakukan kesalahan pelafalan atau tata bahasa.

Mungkin Anda juga menyukai