BAPOMI Dharmasraya 2026: Silat Sebagai Seni Bela Diri Kehidupan Hijau
Kabupaten Dharmasraya bersiap menghadirkan nuansa spiritual dan ekologis yang mendalam melalui perhelatan BAPOMI 2026, dengan menjadikan pencak silat sebagai sorotan utama. Namun, silat yang ditampilkan di sini bukan sekadar olahraga bela diri fisik untuk memperebutkan gelar juara. BAPOMI Dharmasraya mengusung konsep “Seni Bela Diri Kehidupan Hijau”, di mana filosofi dasar silat dikembalikan pada akarnya sebagai bentuk perlindungan terhadap alam dan sesama makhluk hidup. Program ini bertujuan untuk membentuk karakter atlet mahasiswa yang tidak hanya tangguh dalam bertarung, tetapi juga menjadi pelindung ekosistem hutan dan sungai di wilayah mereka.
Dalam tradisi silat kuno, gerakan-gerakan banyak meniru perilaku hewan dan elemen alam, yang secara tersirat mengajarkan harmoni dengan lingkungan. Di Dharmasraya, para atlet mahasiswa diajarkan untuk memahami kembali kaitan antara setiap jurus dengan kelestarian bumi. Misalnya, latihan fisik dilakukan di ruang terbuka hijau untuk meningkatkan kesadaran sensorik terhadap udara bersih dan tanah yang subur. Konsep kehidupan hijau ini diimplementasikan melalui aksi nyata di mana setiap perguruan silat yang berpartisipasi dalam ajang BAPOMI 2026 diwajibkan untuk mengadopsi satu area hutan atau sungai yang harus mereka jaga dan bersihkan secara berkala sebagai bagian dari syarat kelulusan pelatihan mereka.
Pendekatan ini menjadikan Dharmasraya sebagai pusat pengembangan bela diri yang sangat berkarakter. Para atlet diajarkan bahwa kekuatan fisik yang mereka miliki adalah amanah untuk menjaga kelangsungan hidup planet ini. Dalam pertandingan resmi, BAPOMI menerapkan aturan di mana setiap poin yang diraih oleh atlet akan dikonversi menjadi bantuan bibit pohon yang akan ditanam di area kritis di Dharmasraya. Dengan demikian, semangat kompetisi di atas matras secara langsung berbanding lurus dengan upaya penghijauan di lapangan. Inilah esensi dari bela diri yang sejati: bertarung demi masa depan yang lebih hijau bagi generasi mendatang.
Edukasi mengenai nilai-nilai ekologis ini juga merambah ke perlengkapan yang digunakan. Seragam silat yang dikenakan oleh para atlet di ajang 2026 terbuat dari bahan tekstil organik yang menggunakan pewarna alami dari tanaman lokal Dharmasraya. Penggunaan material bela diri yang ramah lingkungan ini membuktikan bahwa tradisi dapat berjalan seiring dengan gerakan keberlanjutan modern. BAPOMI ingin menunjukkan kepada dunia bahwa pencak silat adalah warisan budaya yang sangat adaptif dan mampu menjadi jawaban atas krisis moral lingkungan yang tengah melanda dunia saat ini.