Leadership Camp BAPOMI Dharmasraya: Bentuk Karakter Kapten Tim

Kegiatan Leadership camp ini dilakukan di lingkungan terbuka untuk menguji daya tahan mental dan kemampuan pengambilan keputusan para peserta. Selama kegiatan, para calon kapten tim diberikan berbagai simulasi masalah yang mungkin terjadi dalam sebuah turnamen, mulai dari konflik internal antar-atlet hingga menghadapi keputusan wasit yang dirasa tidak adil. BAPOMI Dharmasraya menekankan bahwa seorang pemimpin di lapangan harus tetap tenang dan mampu berpikir jernih meskipun dalam tekanan tinggi. Kemampuan untuk merangkul dan memotivasi rekan setim adalah kunci utama yang diajarkan dalam setiap sesi pelatihan karakter ini.

Pembentukan Karakter menjadi poin yang sangat krusial karena mahasiswa adalah representasi dari kaum intelektual. Seorang atlet mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menang, tetapi juga untuk menunjukkan integritas dan etika yang tinggi. Dalam kamp ini, peserta diajarkan tentang pentingnya sportivitas dan disiplin diri. Disiplin bukan hanya soal datang tepat waktu saat latihan, tetapi juga tentang menjaga pola hidup sehat, menjauhi narkoba, dan tetap mengutamakan kejujuran dalam setiap tindakan. Nilai-nilai moral ini diharapkan akan melekat pada diri mereka dan menular kepada seluruh anggota tim yang mereka pimpin nantinya.

Peran seorang Kapten tim bukan hanya sekadar memakai ban lengan saat bertanding, melainkan menjadi jembatan antara pelatih dan pemain. Dalam sesi diskusi kelompok, para atlet diajarkan cara berkomunikasi yang efektif untuk menyampaikan instruksi strategi tanpa harus menjatuhkan mental rekan setim. BAPOMI Dharmasraya menyadari bahwa banyak tim yang gagal karena kurangnya komunikasi internal yang sehat. Dengan membekali para kapten keterampilan interpersonal, diharapkan suasana dalam tim menjadi lebih harmonis dan fokus pada satu tujuan bersama, yaitu meraih kemenangan demi kehormatan Dharmasraya.

Program yang diinisiasi oleh BAPOMI ini juga menyentuh aspek manajemen organisasi kecil di tingkat UKM olahraga kampus. Para peserta diberikan bekal mengenai cara mengelola administrasi tim dan merancang kegiatan mandiri yang dapat mempererat solidaritas. Kemampuan manajerial ini sangat berguna agar kegiatan olahraga di kampus tidak hanya bergantung pada instruksi dari atas, tetapi tumbuh dari inisiatif para mahasiswanya sendiri. Dharmasraya ingin mencetak atlet yang mandiri dan memiliki visi ke depan, sehingga setelah masa kuliah berakhir, mereka tetap memiliki jiwa kepemimpinan yang siap diaplikasikan di dunia kerja.

Mungkin Anda juga menyukai