Jam Latihan Ideal Atlet Dharmasraya: Sebelum/Sesudah Buka?
Manajemen waktu latihan di bulan suci merupakan tantangan tersendiri bagi para penggiat olahraga prestasi. Di wilayah Dharmasraya, suhu udara dan kelembapan menuntut para atlet untuk lebih jeli dalam mengatur jadwal agar tetap bisa menjaga performa tanpa harus membatalkan ibadah. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengenai kapan jam latihan ideal yang dapat memberikan hasil maksimal namun tetap aman bagi kesehatan. Pilihan antara berlatih sebelum atau sesudah berbuka puasa memiliki implikasi fisiologis yang berbeda terhadap metabolisme tubuh, massa otot, dan tingkat hidrasi seorang olahragawan.
Berlatih di waktu sore, atau sekitar 60 hingga 90 menit sebelum waktu berbuka, sering kali menjadi pilihan populer. Keuntungannya adalah seorang atlet bisa segera mendapatkan asupan nutrisi dan cairan begitu latihan selesai. Namun, pada jam-jam ini, cadangan glikogen dalam tubuh berada pada titik terendah setelah belasan jam tidak mendapatkan asupan. Oleh karena itu, latihan di waktu ini harus dibatasi pada intensitas rendah hingga menengah atau fokus pada pemantapan teknik. Jika dipaksakan dengan intensitas tinggi, risiko katabolisme (penyusutan otot) dan dehidrasi berat menjadi sangat nyata, yang tentu saja akan merugikan progres latihan jangka panjang di wilayah Dharmasraya.
Di sisi lain, berlatih setelah waktu berbuka—biasanya dilakukan setelah salat Isya atau Tarawih—memberikan keuntungan dari sisi ketersediaan energi. Dengan perut yang sudah terisi nutrisi dan tubuh yang sudah terhidrasi, atlet dapat melakukan latihan beban atau latihan intensitas tinggi dengan kapasitas penuh. Namun, tantangannya adalah manajemen waktu tidur. Latihan yang terlalu malam dapat meningkatkan suhu tubuh dan kadar adrenalin, yang terkadang membuat atlet sulit untuk tidur nyenyak, padahal istirahat malam sangat krusial untuk pemulihan. Memutuskan waktu sebelum/sesudah buka sangat bergantung pada jenis cabang olahraga dan tujuan spesifik dari sesi latihan tersebut.
Bagi mereka yang memilih latihan sebelum berbuka, kuncinya adalah strategi “cool down” yang cepat dan pengisian cairan yang segera. Sedangkan bagi yang memilih setelah berbuka, disarankan untuk tidak makan terlalu berat saat berbuka agar perut tidak terasa begah saat bergerak aktif. Edukasi mengenai mendengarkan sinyal tubuh sangat penting; jika muncul gejala pusing yang ekstrem atau detak jantung yang tidak teratur, latihan harus segera dihentikan. Kesadaran akan keterbatasan fisik saat berpuasa akan membuat program kepelatihan menjadi lebih cerdas dan berorientasi pada hasil jangka panjang daripada sekadar memaksakan ego.